Karier gemilang Virgil van Dijk sebagai salah satu bek paling disegani di kancah sepak bola modern tidak diraih dengan jalan yang instan. Sebelum menikmati masa kejayaan bersama klub raksasa Liga Inggris Liverpool dan Timnas Belanda, pemain kelahiran Breda ini sempat merasakan kerasnya hidup sebagai remaja yang harus membagi waktu antara berlatih sepak bola di akademi klub dan bekerja paruh waktu sebagai pencuci piring.
"Saya tidak punya kontrak saat itu dan tahu harus bekerja untuk menghasilkan uang," kenang Van Dijk mengisahkan masa-masa awal remajanya di akademi Willem II ketika ia belum mendapatkan kepastian masa depan di lapangan hijau.
Related Stories
Berlangganan Berita Bola Terbaru
Dapatkan update pertandingan, hasil skor, transfer pemain, dan analisis Liga Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Prancis & Internasional langsung di inbox Anda. Konten eksklusif dan gratis untuk penggemar sepak bola!
SubscribeTitik balik besar dalam hidup Van Dijk terjadi pada tahun 2008 ketika usianya menginjak 17 tahun dan tinggi badannya melonjak drastis hingga 18 sentimeter. Perubahan fisik yang signifikan ini mendorong pelatih untuk memindahkannya dari posisi bek kanan ke posisi bek tengah, sebuah keputusan krusial yang membentuk fondasi masa depannya sebagai benteng pertahanan tangguh.
Meski demikian, jalan berbatu sempat menghalangi langkah awalnya ketika pelatih tim cadangan Willem II saat itu menilai Van Dijk memiliki terlalu banyak keterbatasan. Akibat penilaian tersebut, klub memutuskan untuk tidak memberinya kontrak profesional, memaksanya untuk mengambil langkah besar pindah ke FC Groningen pada usia 19 tahun demi mengejar mimpi sebagai pesepak bola profesional.
Lolos dari Maut hingga Rekor Transfer Dunia Bersama Liverpool
Ujian berat kembali menghampiri Virgil van Dijk saat membela Groningen ketika ia mendadak harus dilarikan ke rumah sakit akibat radang usus buntu akut, peritonitis, hingga keracunan ginjal. Kondisi darurat tersebut bahkan membuat pihak rumah sakit sempat memintanya menandatangani surat semacam surat wasiat karena nyawanya berada di ujung tandang.
Setelah berjuang melawan sakit parah yang membuatnya kehilangan berat badan drastis dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pemulihan, Van Dijk bangkit memperlihatkan performa kelas atas di lapangan hijau. Konsistensi permainan yang memukau bersama klub Skotlandia Celtic mengantarkannya hijrah ke Southampton sebelum akhirnya Southampton melepasnya ke Liverpool pada Januari 2018 dengan banderol fantastis yang memecahkan rekor dunia untuk seorang bek.
Bersama skuad asuhan Jurgen Klopp di Liverpool, Van Dijk langsung menjelma sebagai kepingan puzzle yang hilang untuk meruntuhkan puasa gelar klub di ajang Liga Inggris. Kepemimpinan, kekuatan fisik, serta kemampuan duel udara yang luar biasa membawanya merengkuh berbagai trofi bergengsi mulai dari Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, hingga dinobatkan sebagai pemain terbaik di berbagai ajang kompetisi elite Eropa.
Kini, selain mengemban tanggung jawab besar sebagai kapten utama Timnas Belanda di berbagai turnamen internasional mayor, Van Dijk tetap dikenang sebagai salah satu bek terhebat sepanjang sejarah Liga Inggris. Kisah hidupnya dari seorang pencuci piring hingga berdiri di panggung megah sepak bola dunia menjadi inspirasi nyata tentang ketekunan dan kerja keras tanpa kenal lelah.